Kamis, 22 Januari 2009

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

Realisme

Kaum realisme menganggap bahwa matematika sungguh ada yang bebas dari pikiran manusia. Manusia tidak menciptakan matematika, tetapi lebih pada menemukannya. Sebagai contohnya adalah segitiga yang ada dengan nyata, bukan kreasi dari pikiran manusia. Filsof yang masuk dalam aliran filsafat ini adalah Kurt Godel yang percaya bahwa objek matematika adalah nyata yang dapat dirasakan dengan cara yang sama seperti perasaan ketika melihat.

Absolutisme

Kaum absolutisme berpendapat bahwa matematika adalah netral dan bebas nilai, nilai yang mereka maksud adalah nilai yang melekat pada diri mereka yang berupa kultur, bukan nilai yang melekat secara implisit pada matematika.

Empirisisme

Empirisisme merupakan bentuk dari realisme yang menyangkal bahwa matematika bersifat a priori. Kaum empiris mengatakan bahwa mereka menemukan fakta-fakta matematika dengan penelitian secara empiris. John Stuart Mill sebagai seorang empiris berpandangan bahwa pemahaman matematika diperoleh dari pengalaman dan kebenaran matematika diperoleh dengan melakukan generalisasi kegiatan penemuan konsep-konsep empiris. Pendapat John Stuart Mill dikecam, karena statemennya seperti “2 + 2 = 4” menghilangkan keragu-raguan, kebenaran yang tidak jelas, yang hanya dapat dipelajari melalui observasi contoh dari dua pasang yang datang secara bersama-sama dan pembentukan kuartet. Menurut kaum pondasionalisme empiris, dasar dari pengetahuan adalah lebih dari kebenaran yang diperoleh dari hukum sebab-akibat daripada diturunkan dari argumen-argumennya. Kaum pondasionalisme empiris mempunyai dua asumsi: (a) terdapat nilai kebenaran, jika kita mengetahuinya, yang memungkinkan kita dapat menjabarkan semua pengetahuan tentang ada; (b) nilai kebenaran itu diterima sebagai benar tanpa prasyarat.

Rasionalisme

Menurut kaum rasionalisme kebenaran matematika diperoleh berdasarkan pengalaman. Rene Descartes dan Leibniz berpendapat bahwa konsep matematika bersifat melekat pada pikiran kita. Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Kaum pondasionalisme rasionalis berusaha mencari sumber dari kegiatan berpikir yaitu kegiatan dimana kita dapat menemukan ide dasar dan kebenaran. Kaum rasionalis seperti Plato, Descartes, Leibniz, atau Spinoza, percaya bahwa semua pengetahuan telah ada pada akal budi sebelum aktivitas kognisi dimulai, namun mereka dianggap belum mampu meletakkan dasar-dasar pengetahuan yang menjamin nilai kebenaran suatu proposisi.

Intuisionis

Menurut Brouwer sebagai kaum intuisionis untuk mengembangkan matematika harus menggunakan intuisi kita, sayangnya intuisi dan pengalaman kita tidak dapat menjangkau bilangan infinit, sehingga kaum intuisionis hanya mengembangkan matematika untuk bilangan-bilangan finit atau berhingga dan menolak bilangan infinit atau bilangan tak hingga.

Logicisme

Logicisme mengatakan bahwa matematika dapat diturunkan dari logika, sehingga merupakan bagian dari logika. Gottlob Frege merupakan filsof pendiri aliran ini. Pendapatnya dalam Die Grundgesetze der Arithmetik (Basic Laws of Arithmetic) bahwa aritmetika dibangun dari sistem logika yang merupakan perluasan dari prinsip pemahaman yang diberi nama “Basic Law V”, sebuah prinsip yang diterima sebagai bagian dari logika. Bertrand Russel (1872-1970) dan Alfred North Whitehead (1861-1947) merupakan tokoh aliran ini. Lewat bukunya Principia Mathematica (1903), menurut mereka matematika dapat diturunkan dari prinsip-prinsip logika, menurut kaum logicisme, matematika tidak lain adalah logika.

Formalisme

Ahli matematika Jerman, David Hilbert (1862-1943) menjadi pelopor aliran matematika ini. Bagi kaum formalis, matematika sesungguhnya dikembangkan melalui sistem aksioma. Sifat alami dari matematika adalah sistem lambang-lambang formal. Mereka percaya bahwa obyek-obyek matematika itu tidak ada hingga diciptakan oleh manusia melalui sistem aksioma. Walaupun semua sistem matematika masih menggunakan aksioma, tetapi menganggap bahwa formalisme menjadi landasan matematika tidak diterima oleh beberapa ahli. Keberatan bermula ketika Godel membuktilkan bahwa kita tidak mungkin dapat membuat suatu sistem lengkap yang konsisten dalam dirinya sendiri. Pernyataan ini dikenal dengan sebutan “Teorema Ketidaklengkapan Godel”.

SUMBER:
______________________.2004. Philosophy of Mathematics. http://en.wikipedia.org.

Marsigit. 2008. Epistemologi Matematika. http://powermathematics.blogspot.com

_______. 2008. Pondasi Matematika dari Plato Sampai Godel.

http://powermathematics.blogspot.com.

_______. 2008. Matematika Dilihat dari Berbagai Sudut Pandang.

http://powermathematics.blogspot.com.

Noeng Muhadjir. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin.

FILSAFAT YUNANI

Filsafat Yunani merupakan reaksi atas cara berpikir mitologis. Manusia Yunani pertama-tama mencoba menerangkan dunia dengan kejadian-kejadian yang menyertainya secara mitologis. Pemikiran mitologis tersebut dikaitkan dengan pemikiran keagamaan, alasannya adalah makhluk-makhluk merupakan dasar alam, maka makhluk-makhluk itu perlu disembah dan dipuja. Akibat dari berkembangnya kasusteraan Yunani dan masuknya ilmu pengetahuan, peran mitologi kemudian secara perlahan-lahan diganti logos.

Filsof Yunani, Herakleitos merasa heran tentang kemajuan masyarakat sejak jaman kuno. Dia berpendapat bahwa segala sesuatu dalam keadaan terus berubah, yang artinya bahwa perubahan dunia mengikuti kemajuan dan bersatu untuk menjaga perubahan tersebut.

Selain Herakleitos, filsof Yunani Kuno yang lain adalah Plato yang merupakan cikal bakal filsof politik Barat dan sekaligus tokoh pemikiran etika dan metafisika. Plato menulis tak kurang dari dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi. Bukunya yang terkenal adalah “Republic” yang mewakili pikiran-pikirannya tentang bentuk masyarakat yang menurutnya ideal. Plato menganggap penting tugas akal untuk membedakan tampilan (penampakan) dari realita (kenyataan) yang sebenar-benarnya. Bagi Plato, matematika bukanlah idealisasi aspek-aspek tertentu yang bersifat empiris akan tetapi sebagai deskripsi dari bagian realitanya.

Socrates juga merupakan salah satu filsof Yunani, metode pembelajaran yang terapkan oleh Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para siswanya terlatih untuk mampu menjelaskan ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail. Socrates sendiri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Kebanyakkan yang kita ketahui mengenai buah pikiran Socrates berasal dari catatan Plato, Xenophone dan siswa-siswa lainnya.

SUMBER:

_________________. 2008. Plato. http://media.isnet.org.

Gas Terzoulin. 2008. Heraklitos The Unknown Philosopher. .

Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul I. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI.